Seringkali muncul pertanyaan, apakah demokrasi bertentangan dengan nilai-nilai Islam? Dalam sejarah dan literatur Islam, kita akan menemukan bahwa prinsip-prinsip demokrasi, seperti keadilan, kebebasan berpendapat, dan partisipasi publik, memiliki keselarasan dengan nilai-nilai Islam—khususnya melalui konsep syura atau musyawarah.
Musyawarah dalam Islam
Dalam Al-Qur’an surah Asy-Syura ayat 38, Allah memuji orang-orang yang urusan mereka diputuskan melalui musyawarah:
“…dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…”
Ini menunjukkan bahwa partisipasi dalam pengambilan keputusan merupakan nilai utama dalam tata kelola masyarakat menurut Islam.
Demokrasi: Sarana, Bukan Tujuan
Demokrasi bukanlah suatu “agama politik”, melainkan sebuah sistem yang dapat diarahkan pada nilai kebaikan atau keburukan tergantung siapa pelakunya. Jika dijalankan dengan nilai keadilan, amanah, dan akhlakul karimah, maka demokrasi bisa menjadi jalan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang Islami.
Partisipasi Publik sebagai Amal Jama’i
Keterlibatan dalam kehidupan publik—seperti memberikan aspirasi, memilih pemimpin, atau ikut serta dalam kegiatan sosial—merupakan bentuk kontribusi dalam amal kolektif (amal jama’i) yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Penutup
Demokrasi yang sehat, bersih, dan berpihak pada kemaslahatan umat tidaklah bertentangan dengan Islam. Justru, nilai-nilai Islam dapat memperkuat etika dan moral dalam praktik demokrasi modern. Mahasiswa FISIP UNISDA didorong untuk memahami hal ini, agar menjadi generasi pemikir politik yang cerdas dan berintegritas.